Selasa, 09 Februari 2010

ACIS = Aku Cinta Serui Atau Aku Cinta Milo

ACIS merupakan julukan atau singkatan dari mantan Bupati Yapen Waropen Laban Samori di era 1990-an. Kepanjangannya: Aku Cinta Serui, Aman Ceria Indah dan Sehat. Julukan tenar ini sayang kini tak sejalan lagi dengan kenyataan di Kota Kembang.
Pemerintah Daerah Kepulauan Yapen (Serui) dan para elite kota sudah tidak memiliki rasa cinta terhadap kota ini. Barangkali lebih tepat jika ACIS (Aku Cinta Serui) diganti dengan Milo.

Penulis surat adalah salah satu orang pengunjung hampir 5 kali dan menyaksikan kegiatan di kampung-kampung. Di Ansus kini menjadi tempat pusat minuman lokal. Banyak sekali orang disana yang hanya hidup dengan minuman, hanya hidup dmikian susah diatas kekayaan alam merek. Mereka seharusnya tak bisa susah namun pengaru dengan minuman kini hanya kerjanya minum dasn tidur.

Kota kembang yang diberi nama indah itu kini telah hampir mau hilang dari kehidupan masyarakat kota Serui, kemajuan juga menjadi pertanyaan sebab rakyat di daerah tersebut tidak ada perubahan sedikitpun dari kehidupan masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan adalah pemerintahan Yapen tadak mau bertanggung jawab terhadaqp rakyat di kampung atau karena kepentingan elit politik rakyat tidak dimajukan. Perntanyaan itu muncul ketika melihat situasi masyarakat tidak bisa maju dan masih tradisional.

Penulis : Ottys Kambue

SSB

Seribu Satu Botol

Serui Kampung Kaerawin Ansus dan sekitarnya dikenal dengan kampung SSB. SSB adalah merupakan minuman lokal atau dikenal dekat dengan Bobo. Bobo dibuat dari Pohon Enau, minuman ini tidak dicampur dengan bahan apapun tetapi minuman ini dibuat dari hasil iris yang di jadikan sebagai minuman khas masyarakat di wilayah Yapen Barat.
Minuman ini sering di istilahkan sebagai minuman obat tradisional. SSB singkatan dari Seribu Satu Botol. Sering orang di Kampung yang ada di Yapen barat menyebutnya sebagai minuman khas. Pada pasar pagi biasannya dijual dengan harga se-botol dengan seribu rupiah satu botol Rp. 1000 Per Botol/liter.
Walaupun ada peraturan pemerintah barangkali telah menetapkan tentang pelarangan penjualan minuman keras tetapi di kampung terlihat masih banyak orang yang masih memproduksi minuman keras. Pendapatan paling besar di wilayah ANSUS Yapen Barat adalah minuman lokal (Bobo) atau disebut dengan seribu satu botol atau seribu satu liter (SSB-SSL) minuman buatan lokal.
Ketika saya tanya minuman bagaimana bisa ada, dijawabnya singkat oleh masyarakat setempatnya yaitu ini bukan minuman toko katanya, minuman ini merupakan hasil buatan sendiri sehingga jangan bilang begini atau begitu, minum saja Katanya, jadi anak minumanj ini kami buat dan kami konsumsi sendiri , baik dewasa gen pria maupun gen wanita kecil atau besar semua mengkonsumsi semuanya.
Hal yang ane adalah di kampung yang saya kunjungi pada waktu itu, sementara dalam keadaan mabuk semua,mabuk tapi masih berdayung ambil kepala miring-miring. Maklum karena orang baru saya juga tidak mengetahui dengan baik ternyata di kampung Kaerawin itu ada pasar subu, dalam pasar subu satu penjualan utama adalah SSB-SSL yang menjadi minuman khas sambut pagi.
Kami juga disambut dengan minuman sebagai acara sambut namun karena kami tidak biasa milo jadi hanya mempersilahkan mereka untuk melanjutkan saja. Sungguh luar biasa kehidupan di desa terpencil yang lengkap dengan minuman lokal ini siapapun tidak bisa melupakan kampung-kampung yang ada di wilayah ANSUS.

Ansus2010

Senin, 08 Februari 2010

RUMAH TRADISIONAL

Kabupaten Kepulauan Yapen terletak di tengah pulau, namun di didalamnya memiliki wilayah yang cukup luas. Wilayah Yapen disebelah barat dikenal dengan daerah ANSUS, di sekitar ansus banyak kampung terletak pinggiran Pantai. Kampung-kampung ini telah menjadi status Kampung atau yang dikenal adalah Desa. Namun demikian wilayah tersebut masih hidup dalam kategori daerah terpencil, wilayah- wilayah ini belum disentu oleh pembangunan.
Walaupun Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen tentu melaksanakan pemerintahan tentu dengan dana APBD dengan jumlah besar namun belum terjangkau sampai ke wilayah barat dari Serui.
Perumahan Rakyat masih sangat tradisional, masih dalam hidup dengan rumah panggung, belum ada rumah sosial, sangat sedih bila sudah di kampung yang ada di wilayah tersebut.
Rakyat membuat rumah panggung di tepi pantai diatas laut dan mereka tetap hidup seperti biasanya yang mereka lakukan. Walaupun anak kelahiran kampung-kampung telah menjadi pejabat dimana-mana (Papua dan Luar Papua) tetapi masyarakat Kampung tetap masih tradisional.
Pertanyaan kapan mereka ini bisa maju kalau hidup terus begini, dimana pemerintah itu pertanyaan saat melihat situasi di wilayah tersebut. Pemerintah Eksekutif maupun Legislatif harus bekerja terbuka dengan rakyat, jangan terbuka diantara eksekutif dan legislatif saja tanyaku dalm hati. Aduh sedih sekali kalau nasib demikian lebih baik pemerintah cari solusi untuk bangun rakyatnya yang ada di rumah panggung itu.
Hampi semua wilayah pantai demikian tetapi masih ada urat gunung jadi janga n rasa susah untuk membangun masyarakat sebab menjadi pemerintah lebih baik harus bertanggung jawab kepada rakyat.